Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Wednesday, September 24, 2025

Pidato Sang Squealer di Pentas Dunia

Di pentas agung, sang Squealer berdiri,
Dengan jas megah dan lidah berseni,
Katanya: “PBB itu korup dan tak berguna,”
Padahal cermin retak itu wajahnya sendiri.

“Usir pendatang, tutup sempadan!”
Jeritnya lantang, penuh kebanggaan,
Sambil menuduh Syariah mahu berkuasa,
Di kota London yang tak pernah minta jasa.

Sadiq Khan jadi umpan retorik,
Islam dijadikan kambing hitam politik,
Katanya: “Kami bela kebebasan!”
Tapi hanya untuk kulit dan pasport pilihan.

Newspeak pun beraksi, kata jadi senjata,
“Pelarian itu ancaman, bukan manusia biasa.”
Doublethink menari di layar diplomasi,
Hak asasi diseru, sambil pintu ditutup rapi.

Squealer tersenyum dari Animal Farm,
“Semua haiwan sama, tapi kami lebih charm.”
Ellul mengangguk dari bilik sunyi,
“Propaganda bukan iklan, tapi ekosistem yang disuci.”

Islamofobia bukan sekadar benci,
Ia sistem yang dijaga rapi,
Dari media, dasar, hingga silibus sekolah,
Islam dibingkai sebagai ancaman yang salah.

Berbeza dari anti-Semitisme yang dikutuk dunia,
Islamofobia masih dijual tanpa rasa bersalah,
Satu dibela dengan memorial dan undang-undang,
Satu lagi dibiar jadi bahan retorik yang murahan.

Malaysia, jangan jadi boneka geopolitik,
Di kiri ada BRICS, di kanan ada retorik,
Di tengah ada rakyat yang mahu hidup damai,
Tanpa propaganda yang membakar semangat yang tenang.

Jalan tengah bukan jalan mudah,
Tapi jalan yang berjiwa merdeka dan berakal siasah,
Bukan tunduk, bukan melawan membuta tuli,
Tetapi berdiri dengan hikmah, seni dan hati.

Puisi Pak Ari - 24 September 2025

Wednesday, September 17, 2025

Fitrah – versi 2025

Satu hari ini…
Hari diri kembali
Ke keadaan asal yang fitrah
Ke keadaan asal yang suci tanpa noda dan dosa

Begitu jalan cerita dari kitabNya
Amat berlanjutan hari ini dan esok
Alam menjadi saksi
Bahawa manusia telah lama lupa
Siapa yang mencipta, siapa yang mengurus
Siapa yang tidak pernah tidur

Di tanah ini…
Tanah yang subur dengan salam dan senyum
Tapi juga luka yang tidak kelihatan
Hedonisme jadi budaya
Narkotik jadi pelarian
Rasuah jadi sistem
Kikir jadi falsafah

Kini muncul pula virus-virus halus
Yang dibawa oleh teknologi:
Perbandingan tanpa henti
Maklumat tanpa saringan
Kebencian berkod emoji
Identiti palsu
Ketagihan tanpa sedar

Dan di tanah asing itu… Palestin
Tanah yang tidak asing bagi doa-doa kita
Tapi asing bagi keadilan dunia
Di sana, bayi tidak sempat belajar menyebut “aman”
Kerana bom lebih pantas daripada bahasa
Di sana, ibu tidak sempat menyiapkan bekal
Kerana pagi-pagi sudah ada siren dan serpihan

Tanah itu terus bergolak
Tapi tanah itu terus bermaruah
Kerana di sana, syahadah tidak pernah tunduk
Dan ‘izzah tidak dijual walau dengan nyawa

Satu hari nanti…
Esok lusa atau seribu tahun lagi
Bagaimanakah mahu fitrahNya
Dimakamkan tinggi di Sana
Kembalikan pada menghadapNya
Dengan amal dan ibadah
Dengan ilmu dan hikmah
Dengan keberanian menolak thaghut
Dan kesungguhan dalam kerja—itqan fil amal

Di tanah jagatraya inilah
Yang hanya Dia tempat kembali
Dan hanya Dia yang tahu
Bila fitrah akan kembali bernafas
Dalam jiwa yang tidak lagi tunduk kepada gelap

Pak Ari - 17 September 2025

Tuesday, September 16, 2025

Di Bumi Yang Tak Pernah Sunyi

Subuh belum sempat menyeka embun,

Langit Gaza sudah disimbah api,

Dan bumi Palestin —

Masih menanggung luka yang diwariskan sejak 1948,

Ketika rumah-rumah dirobohkan,

Dan anak-anak menjadi pelarian di tanah kelahiran sendiri.

آتونا طفولي…

Berikan kami masa kecil kami…

Berikan kami kedamaian…

Nakbah bukan sekadar sejarah,

Ia adalah nadi yang berdarah,

Yang mengalir dari Deir Yassin ke Jenin,

Dari Sabra ke Shatilla,

Di mana tubuh-tubuh kecil disusun seperti batu nisan,

Dan dunia —

Masih memilih untuk membisu.

Di khemah yang koyak,

Di lorong yang sempit,

Anak-anak masih melukis bendera,

Masih menyebut nama Tuhan,

Masih menyimpan harapan —

Bahawa dunia akan melihat mereka bukan sebagai angka,

Tetapi sebagai jiwa.

آتونا طفولي…

Berikan kami masa kecil kami…

Berikan kami masa depan…

Di sekolah yang hancur,

Di masjid yang dibakar,

Di jalan yang disekat,

Mereka tetap berdiri,

Dengan batu di tangan dan doa di dada.

Dan kami,

Yang jauh dari Gaza,

Akan terus menyebut namamu,

Akan terus menulis,

Agar dunia tidak lupa,

Bahawa Palestin bukan sekadar tanah,

Tetapi jiwa yang sedang menunggu pembebasan.

Maka kami berdoa:

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا،

اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Ya Allah,

Alihkanlah hujan bala dari mereka,

Tumpahkanlah rahmat ke lembah-lembah yang menanti,

Berikanlah masa kecil mereka kembali,

Berikanlah masa depan yang tidak dibina atas runtuhan.


Pak Ari

Papar, Ogos 2025

Subuh Malaysia di Bawah Langit Basah

Subuh ini,

Langit masih menangis semalaman,

Hujan turun tanpa jeda,

Seakan bumi sendiri bersyahadah,

Mengadu tentang luka yang tak terubat.

Di tanah ini,

Malaysia berdiri di ambang usia,

Namun jiwa bangsanya masih tercari-cari,

Di celah kemajuan dan janji,

Ada dosa yang tak terucap,

Ada amanah yang sering terlepas.

Kita,

Yang diberi kuasa,

Kadang lupa bahawa kuasa itu bukan takhta,

Tetapi amanah yang berat di bahu,

Yang harus dijunjung dengan adab dan malu.

Kita,

Yang memegang pena dasar,

Kadang menulis dengan nafsu, bukan hikmah,

Leka di puncak,

Lupa akar yang menyokong,

Lupa rakyat yang menunggu.

Subuh ini,

Hujan masih belum reda,

Seakan langit ingin bicara,

Bahawa bumi ini bukan milik kita semata,

Tetapi amanah dari Yang Maha Esa.

Maka kami berdoa,

Dengan lidah yang basah dan hati yang pasrah:

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا،

اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Ya Allah,

Alihkanlah hujan ini dari kami,

Janganlah ia menimpa kami dengan mudarat,

Tumpahkanlah ia ke tempat tinggi,

Ke lembah yang menanti,

Ke tanah yang menumbuhkan rahmat-Mu.

Subuh ini,

Malaysia tidak hanya mengingati sejarah,

Tetapi memohon agar masa depan disuluh dengan hikmah,

Agar hujan menjadi rahmat, bukan bala,

Agar kuasa menjadi amanah, bukan senjata,

Agar kita kembali menjadi bangsa yang berjiwa.


Pak Ari

16 September 2025

Merdeka Bernyawa, Jiwa yang Membela

Di tanah ini, merdeka bukan sekadar perayaan,

ia janji yang perlu ditunaikan dengan kejujuran dan kesedaran.

Bukan hanya bebas dari rantai penjajah,

tetapi bebas dari gelap fikiran dan jiwa yang resah.


Merdeka mesti bermula dari dalam,

dari jiwa yang disucikan, dari akal yang dibijakkan.

Bukan sekadar bendera di tiang tinggi,

tetapi nilai yang hidup di hati setiap anak negeri.


Kita membina jiwa rakyat yang tahu:

bahawa tamadun bukan batu dan bangunan,

tetapi akhlak, ilmu dan kesatuan.

Tanpa itu, kita hanya megah di luar, tapi kosong di dalam.


Rukun Negara bukan sekadar lafaz di dinding sekolah,

ia tiang akhlak, asas hidup yang menyatukan segala:

percaya kepada Tuhan, hormat kepada undang,

kesetiaan, keluhuran, dan kesopanan yang membimbing jalan.


Karamah insaniah bukan hanya tentang hak,

ia tentang maruah, tentang menjadi insan yang menyemai rahmat.

Bila jiwa dijaga, masyarakat pun terpelihara,

dan negara menjadi tempat tumbuhnya harapan bersama.


Malaysia MADANI bukan sekadar dasar,

ia sulaman nilai yang menjadikan kita bangsa yang besar:

Kesejahteraan yang adil,

Kemampanan yang lestari,

Hormat yang menyatukan,

Daya cipta yang membebaskan,

Keyakinan yang membangkitkan,

dan Ihsan yang menyembuhkan.


Merdeka ini bukan milik mereka yang berselindung,

ia milik kita yang jujur, yang berani, yang menyambung.

Mari kita isi kemerdekaan dengan keberanian dan hikmah,

agar tanah ini menjadi baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr —

negeri yang baik, dan Tuhan yang Maha Pengampun.

QANAAH MADANI

Di redup petang yang merunduk tenang,

aku bertanya pada bayang di tanah,

apakah makna hidup jika tiada arah,

dan ke mana jiwa harus melangkah?


Dalam diam, suara hati berbisik:

“Tujuanmu bukan hanya untuk diri,

tapi untuk menyulam kasih di bumi,

menyubur nilai, memelihara harmoni.”


Aku temui qanaah di wajah tua yang sabar,

di tangan petani, di doa ibu yang lebar,

di langkah anak muda yang tidak gentar,

membina MADANI dengan jiwa yang segar.


Ihsan bukan sekadar belas,

tapi tindakan yang ikhlas.

Hormat bukan hanya tunduk,

tapi memahami sebelum menghakimi.


Kebijaksanaan bukan milik sang cendekia, 

ia lahir dari pengalaman dan rasa,

dari luka yang sembuh dengan doa,

dan harapan yang tak pernah padam walau kecewa.


Qanaah dalam MADANI…

adalah hidup yang memberi,

bukan sekadar mencari rezeki dan mengumpul materi,

tetapi menyalakan cahaya dalam diri untuk ummati.


PAPAR, 14 OGOS 2026 / 20 SAFAR 1447H

Monday, January 12, 2015

Syurgaku Bersamamu

Usiaku melangkah dekat pada senja
Bersama pudarnya senyum sang suria
Dia hadir... bersama rasa yang membuatku dipenuhi rasa sesal
Akan cinta yang lambat hadir

Aku pernah bertatih...
Aku pernah tersandung jatuh tersungkur sendirian...
Mengejar angan bahagia kehidupan...
Sampai putus segala harap

Ku tak menyangka...
Memilikimu adalah sebuah mimpi...
Mimpiku yg kini menjadi nyata...
Nyataku saat ini ingin selalu bersamamu...
Bersama menjalani kisah kita berdua...
Berdua, cuma aku dan kamu...

Bersamamu adalah harapanku...
Bersamamu adalah inginku...
Bersamamu adalah hal yg indah untukku...
Bersamamu adalah pilihanku...

Bersamamu aku hidup...
Bersamamu aku merasa lebih berarti...
Aku ingin kita terus bersama...
Dan ku ingin jadi yang paling teristimewa...
Dan saat ini kamu yg ku sayang...

Ya Allah jadikanlah Dia beriman dan bertaqwa kepadaMu
Dialah wanita yang luhur budi pekertinya baik pula perangainya

Ya Allah lindungilah dia dari godaan iblis
Kuatkanlah imannya
Jadikanlah ia seorang yang sabar dan tabah
Serta muliakanlah akhlak dan tingkahnya

Sesungguhnya dialah cita segala rasa
Seolah menjadi rangkaian bunga yang berwarna
Dan telah menjadi sebait puisi cintaku
Dialah syurga ku

Saturday, October 18, 2014

Keindahan yang mengindahkan

Keindahan itu bermula dengan cinta,
Kenal cinta,
Untuk mencinta,
Untuk dicinta.

Ya cinta...
Apa itu cinta,
Apa yang menggambarkan cinta,
Bagaimana mengenal cinta...

Pemuitis cinta berkata cinta itu buta,
Kalau buta kenapa dicari,
Kalau buta apa yang istimewa,
Kalau buta bukan bahagia namanya.

Lantas aku bertanya adakah cinta itu mencari?

Pemotret cinta berkata cinta itu abstrak,
Dua tanda tanya digabung menjadi lambangnya,
Petir menjadi panahnya,
Busur menjadi pemacunya.

Lantas aku bertanya adakah cinta itu menyoal?

Penulis cinta berkata cinta itu drama,
Drama yang bisu epilognya,
Diulang-ulang plotnya,
Pengakhirannya... mengelirukan dan membingungkan

Lantas aku bertanya adakah cinta itu misteri?

Persoalan cinta dan bahagia memang sukar,
Pencarian cinta dan bahagia memang berliku,
Cinta dan bahagia itu memang perjalanan misteri,
Pandulah dengan Quran dan Sunnah Nabimu

Cinta itu seharusnya...
Hati yang biru sebagai kemakmuran,
Hati yang hijau sebagai kedamaian,
Hati yang merah sebagai kesungguhan,
Dan hati yang putih sebagai ketulusan,

Bahagia itu...
Ketika hati bicara suka dan cinta,
Hati seharusnya menjadi tenang,
Akal yang penuh dengan logik,
Kalbu yang megah dengan sinaran.

Cinta mencipta rasa yang indah,
Perasaan suka dan bahagia yang hakiki,
Bagai irama yang membelai berterusan,
Mimpi dan realiti sama taranya...

Keindahan itu...
Mengindahkan perasaan bahagia bersama,
Aku bahagia engkau bahagia,
Aku cinta engkau cinta,
Bersama kita kembali mencinta dalam cinta yang Maha Agung

Abdul Ramlie Ibrahim
Kepong, 17 Oktober 2014

Sunday, October 12, 2014

Kadang-kadang

Kadang-kadang yang cantik tidak semestinya  anggun,
Lihat ja bunga lyly,cantik tapi penuh racun.
Kadang-kadang yang manis tidak semestinya romantis,

Lihat ja gula,manis tapi penyebab diabetes,
Kadang-kadang yang pahit tidak semestinya perit,
Lihat ja ubat,pahit tapi penawar penyakit.
Kadang-kadang yang pedas tidak semestinya lecur,

Lihat ja lada,pedas tapi sedap bila di celur.
Kadang-kadang isi sendiri tidak semestinya kubu besi,
Lihat ja menteri, rakyat sendiri dianak tiri.
Kadang-kadang darah sendiri tidak semestinya kawan,

Lihat ja SLE,darah sendiri menjadi lawan.
Kadang-kadang orang sendiri tidak semestinya kasih,
Lihat ja anak2 kecil,dibuang disisih ibu bapa sendiri.

Thursday, September 4, 2014

Di sini lahir sebuah cinta... versi aku

Cinta...
Boleh buat kita buta
Tapi biarlah buta yang tidak membutakan aku daripada melihat Nur Ilahi

Cinta...
Boleh buat kita lupa
Aku tidak kisah kalau aku lupa
Tapi bukan lupa yang membuat aku lupakan Allah Ar-raqiib

Cinta...
Buat kita dungu
Aku tidak kisah menjadi dungu
Tapi bukanlah dungu yang tidak boleh membezakan salah dan benar

Cinta...
Buat kita bahagia
Tapi kenapa aku harus bahagia
Apabila seharusnya bersedih pabila mengingkari hukum Allah

Cinta...
Perlukan pengorbanan
Aku mahu berkorban
Tapi kenapa berkorban,  kalau tidak untuk Allah

Cinta...
Kenapa perlu cinta
Tapi bukan cinta kalau tidak kerana Allah

Abdul Ramlie Ibrahim
Papar, 31082014

Sunday, August 3, 2014

Kembali kepada fitrah

 
Dulu...
Walau romantis, ros merah menyakitkan bagiku
Walau indah, cinta ghairah penuh darah bagiku
 
Tetapi, ros putih telah menggantikan ros merah itu
Putihnya memberi keyakinan padaku
Cinta terisi penuh dengan ros putih
Rasa rendang, suci dan tetap romantis
Menyubur indah taman ros putih cinta milikku
 
Cinta imaniah telah menggantikan cinta ghairah,
Cinta bermakna hadir dengan iman,
Rasa tenang, tawadhuk dan syukur
Membentengi teguh tuntutan insani kepada Khaliknya
 
ku belai,
ku peluk mesra,
kaulah peri rosku,
menyempurnakan diriku,
kasihku selamanya.
 

Fitrah

Satu hari ini...
Hari diri kembali
Ke keadaan asal yang fitrah
Keadaan asal yang suci tanpa noda dan dosa

Begitu jalan cerita dari kitabNya....
Amat berlainan hari ini wayangnya

Alam menjadi saksi 
kejahatan tak tertara begitu lama
Merosak bumi, membunuh wanita dan bayi
Merampas hak bagai tiada kanun

Itu di bumi bergolak...
Yang kata Salahuddin
Tanah pemerintah dunia

Di tanahku ini bagaimana...
Gejala sosial, hedonisme, narkotik,
Hibur dan lawak jadi raja dan fantasi
Belum dikira lagi yang namanya
Rasuah, Khianat, Tipudaya dan Kikir

Suatu hari nanti 
Esok lusa atau seratus mahupun seribu tahun lagi
Bagaimana mahu menghadapNya
Di mahkamah tinggi di Sana nanti

Kembalilah kepada fitrah...
Detikmu semakin dikit
Semakin lama kau melebarkan dusta dan angkara
Semakin sedikit hayatmu yang tersisa
Di tanah jagatraya Ilahi yang hanya Dia tempat kembali