Bab 2: Agama dan Evolusi Manusia – Dari Naluri ke Nurani
Di bawah pohon mangga yang rendang, Pak Ari duduk bersandar sambil memegang sebiji buah yang baru gugur. Di sekelilingnya, anak-anak muda kampung duduk bersila, menanti kisah malam itu.
“Pernah kamu fikir,” kata Pak Ari sambil menggolek buah mangga di tangannya, “bagaimana manusia mula percaya kepada Tuhan? Adakah ia datang dari langit, atau tumbuh dari dalam hati?”
Evolusi Jiwa Beragama
Pak Ari membuka halaman buku Islam yang Saya Anut oleh M. Quraish Shihab. Penulis menjelaskan bahawa agama bukanlah ciptaan manusia, tetapi fitrah yang tumbuh bersama akal dan pengalaman hidup. Manusia, sejak zaman purba, telah menunjukkan naluri beragama—melihat petir sebagai amarah langit, atau matahari sebagai dewa cahaya.
“Agama adalah tuntunan Ilahi yang menyatu dengan fitrah manusia.” – Quraish Shihab
Pak Ari menyambung, “Tapi Islam datang bukan untuk menakutkan, tapi untuk menyempurnakan. Ia bukan dongeng, tapi petunjuk.”
Pak Ari membaca perlahan:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”
(Surah Ar-Rum :30)
“Fitrah itu,” katanya, “macam benih. Kalau disiram dengan ilmu dan akhlak, ia tumbuh jadi pohon iman.”
Beliau menyambung dengan sabda Nabi ﷺ:
“Setiap anak dilahirkan atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pak Ari berhenti sejenak. “Maknanya, kita semua lahir dengan potensi mengenal Tuhan. Tapi jalan itu boleh kabur kalau tak dibimbing.”
Evolusi Akal dan Wahyu
Quraish Shihab menegaskan bahawa akal manusia berkembang, tetapi tidak cukup untuk memahami semua hakikat. Maka wahyu datang sebagai pelengkap. Islam tidak menolak sains, tetapi menyaringnya dengan nilai.
Pak Ari tersenyum. “Macam parang. Akal itu tajam, tapi kalau tak ada sarungnya, boleh melukai. Wahyu itu sarungnya.”
Di dinding rumah Pak Ari tergantung lukisan seekor burung yang baru belajar terbang. “Burung itu,” katanya, “macam manusia. Naluri ada, sayap ada. Tapi arah dan angin—itu datang dari Tuhan.”
Pak Ari menutup bukunya. “Agama bukan benda asing. Ia tumbuh dalam diri kita. Tapi kalau kita tak kenal asal-usulnya, kita akan salah faham. Islam bukan datang untuk memadamkan akal, tapi untuk menyalakan nurani.”
Catatan Buku Islam yang Saya Anut Pak Ari - 3 Disember 2025
No comments:
Post a Comment